Jumat, 01 November 2019

Kelebihan Beserta Kekurangan Menjadi Bilingual / Multilingual

Kelebihan dengan Kekurangan Menjadi Bilingual / Multilingual

Edinburgh, United Kingdom
Berdasar dari lecture (perkuliahan umum) yg disampaikan dosen di sini (Edinburgh), journal article, dengan perkuliahan dalam kelas (workshop), berikut saya tulis beberapa kelebihan dengan kekurangan menjadi individu bilingual maupun multilingual dibandingkan dengan monolingual. Monolingual sama dengan seseorang yg hanya mampu menggunakan satu bahasa. Bilingual adalah individu yg mampu menggunakan dua bahasa (dengan mudah) secara bergantian, sedang multilingual berarti lebih dari dua bahasa (McArthur 1992: 673). 

Terkait perubahan negatif ataupun positif menjadi individu bilingual/multilingual, beroleh dibagi ke dalam 3 sisi: linguistic, cognitive, metacognitive. 
"In essence, metacognition refers to thinking about thinking, or thoughts about thoughts." (Brinol, Petty & Tormala 2004). 
1. Perubahan linguistics

Manfaat menjadi bilingual sama dengan lebih lancar dalam mempelajari bahasa lainnya. Jika seorang individu yg bahasa ibunya bahasa Indonesia dengan sedia belajar dengan mampu berbahasa Inggris maka untuk mempelajari bahasa lainnya (misal, bahasa Arab dll) mau lebih lancar / cepat baginya dibandingkan individu monolingual. Hal ini dikarenakan bilingual sebelumnya sedia mempunyai pengalaman dalam mempelajari suatu bahasa. Atau, dengan kata lain pendidikan bilingual sangat membantu dalam pemerolehan / pembelajaran bahasa ke tiga (L3 acquisition).
Sources: (Valencia & Cenoz 1992), (Thomas 1988), (Cenoz & Valencia 1994; Sanz 2000).(eg, Klein 1995; see review by Cenoz 2003)  (Ramsay 1980; Klein 1995).

2 Perubahan cognitive

Pada awalnya, para peneliti menganggap bahwa menjadi bilingual/multilingual beroleh memberikan efek negatif ke kepada anak sehingga dulunya dedar penanggung sangat tidak menginginkan anaknya mempelajari lebih dari satu bahasa.

Saat ini, diketahui setidaknya 3 hal umum menjadi kelebihan menjadi seorang bilingual/multilingual. Yang pertama sama dengan bilingual/multilingual lebih baik dalam "sustaining attention", maupun dg kata lain mereka lebih mampu mempertahankan fokus mereka terhadap suatu hal. Dalam konteks proses pembelajaran, anak bilingual/multilingual lebih mampu fokus dl belajar maupun fokus memperhatikan seorang guru yg menjelaskan dalam kelas dibanding dg anak yg monolingual. Anak bilingual/multilingual dikatakan lebih cenderung berprestasi dibanding anak yg monolingual. Yang ke dua sama dengan individu bilingual/multilingual mampu melakukan "multi-tasking", yaitu mampu mengerjakan beberapa aktifitas dalam satu waktu. Bilingual/multilingual mampu menelpon sambil menulis e-mail; sementara seorang monolingual mendapati hal ini sangat sulit. Hal ini dimungkinkan terjadi karena bahasa yg dimiliki individu bilingual/multilingual semuanya selalu aktif dalam melakukan hal apapun; yg kemudian karena hal ini mau ada dampak negatif. Yang ketiga sama dengan "cognitive reserve", melindungi terhadap penurunan kemampuan kognisi, maupun dengan kata lain mereka mempunyai kognisi yg lebih sehat dengan lebih bertahan lama. Dibuktikan oleh peniltian bahwa bilingual/multilingual mengalami penundaan terhadap gejala-gejala penyakit alzheimer / dementia. Ketika di-scan, otak dedar penanggung yg bilingual/multilingual nampak lebih baik dibanding dengan yg monolingual.

Dampak negatif dari keadaan selalu aktifnya bahasa-bahasa (repertoire) yg dimiliki individu bilingual/multilingual sama dengan mereka memiliki pembendaharaan kosakata lebih sedikit di setiap bahasa yg mereka miliki. Jadi, seorang anak bilingual (mampu bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris, misalkan) mempunyai kosakata bahasa Indonesia lebih sedikit dibanding dg anak Indoenesia yg memang hanya mampu berbahasa Indonesia.

Karena konflik (aktifnya semua bahasa yg dikuasai secara bersamaan) membuat otak individu bilingual/multilingual bekerja lebih berat. Hal ini kemudian membuat individu bilingual/multilingual lebih sering mengalami "lupa kata", yaitu mereka selalu lupa terhadap "nama" suatu objek. Mereka susah untuk mengingat suatu kata (to recall or retrieve words).
Source: Ellen Bialystok` articles

3. Perubahan metacognitive 

Dari segi metacognitive, nampak bahwa individu bilingual/multilingual lebih sensitif terhadap hal-hal terkait budaya dengan mereka cenderung lebih kreatif.
Source: Kharkhurin’s work
Kita masih butuh banyak penelitian terutama dalam hal bidang "metacognitive" ini.

References:
Bialystok, E. & Martin, M.M. (2004). Attention and inhibition in bilingual children : Evidence from the dimensional change card sort task, Developmental Science, 7,3, p. 325-339.
Bialystok, E. (2014). Reshaping the mind: The benefits of bilingualism. Research seminar, Newcastle University, 7 February 2014.
Bialystok, E., Schweizer, T.A., Ware, J., Fischer, C.E., & Craik, F.I.M. (2010). Bilingualism as a contributor to cognitive reserve: Evidence from brain atrophy in Alzheimer’s disease. SciVerse ScienceDirect: 991-996.
Brinol, P., Petty, R. E., & Tormala, Z. L. (2004). Self-validation of cognitive responses to advertisements. Journal of consumer research, 30(4), 559-573.
Cenoz, J. & Valencia, J.F. (1994). Additive trilingualism : Evidence from the Basque Country, Applied Psycholinguistics, 15, p. 195-207.
Cenoz, J. (2003). The additive effect of bilingualism on third language acquisition: A review. International Journal of Bilingualism 7: 71-88. 
Klein, E.C. (1995). Second versus third language acquisition: Is there a difference?  Language Learning 45: 419-466. 
McArthur, T. (ed) (1992). The Oxford Companion to the English Language. Oxford: Oxford University Press. 
Ramsay, M. (1980). Language-learning approach styles of adult multilinguals and successful language learners. In Teller, V. & White, S. (eds) Studies in Child Language and Multilingualism. New York, NY: New York Academy of Sciences: 73-96. 
Sanz, C. (2000). Bilingual education enhances third language acquisition: Evidence from Catalonia. Applied Psycholinguistics 21: 23-44. 
Thomas, J. (1988). The role played by metalinguistic awareness in second and third language learning. Journal of Multilingual and Multicultural Development 9: 235-246. 
Valencia, J.F. & Cenoz, J. (1992). The role of bilingualism in foreign language acquisition: Learning English in the Basque country. Journal of Multilingual and Multicultural Development 13: 433-449. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar