Senin, 21 Oktober 2019

Teori Behaviorisme Dalam Pembelajaran Bahasa Inggris

Teori Behaviorism dalam Pembelajaran Bahasa Inggris

Berikut beberapa implikasi teori behaviourisme (Behaviorist Theory) dalam pembelajaran bahasa Inggris. 

Pada dasarnya teori behaviorisme bukanlah teori yg dikhususkan untuk pembelajaran bahasa Inggris. Teori behavioris ini diperuntukkan untuk semua pembelajaran termasuk matematika, fisika, lalu lain-lain. 

Reinforcement and punishment 

Teori behaviorisme menekankan pentingnya pemberian hadiah (reinforcement) lalu hukuman (punishment). Menurut para ahli bidang teori ini, pemberian hadiah mampun memotivasi lalu mendorong pelajar untuk terus belajar lalu berusaha memahami pelajaran. Sementara hukuman dimanfaatkan ketika siswa tidak melakukan pembelajaran sebagaimana mestinya. Dengan hukuman, diharapkan siswa tidak hendak lagi melakukan kesalahan mereka dalam proses pembelajaran lalu juga ini memberi tahu mereka bahwa apa yg mereka lakukan merupakan hal yg salah, sehingga bisa membuat mereka menghindari kesalahan yg sama ke depannya.

Imitation, practice, lalu feedback
Behaviorisme percaya bahwa siswa, sebagaimana anak-anak, mampu berbahasa karena mengandalkan proses kemarau lip-lap (peniruan). Mereka juga yakin bahwa dalam meniru siswa mesti terus melakukan pengulangan (practice). Misal, ketika siswa ingin belajar tentang kalimat "how are you?", mereka mesti terus mengulang mengatakan kalimat ini. Inilah asal dari istilah `Practice makes perfect!`.

Penting bahwa pengulangan ini dilakukan dengan cara meniru bagaimana orang dewasa melakukannya, termasuk mengikuti cara pengucapannya (pronunciation). Agar siswa sukses dalam hal kemarau lip-lap (peniruan), guru diharapkan mampu memberikan model yg benar. Misal, ketika siswa mengatakan kalimat salah, seperti `I go to store yesterday`, maka guru diharapkan langsung secara konstan memberikan pembenaran (constant feedback) kepada siswa, karena ditakutkan mereka hendak terus mengulang kesalahan yg sama. 

L1 transfer, interference and contrastive analysis
Bahasa pertama / bahasa ibu (L1) bisa mempengaruhi pembelajaran (pemerolehan) bahasa baik secara positif maupun negatif. Pengaruh L1 bisa membantu (positif) ketika struktur bahasa L1 itu mirip ataupun sama dengan bahasa yg sedang dipelajari (L2). Sementara ketika berbeda, maka bisa memberikan dampak negatif terhadap pembelajaran L2. Misal:
a. Saya pergi sekolah tiap hari. (I go to school every day.)
b. Saya pergi sekolah kemairn. (I went to school yesterday.)
c. Ali pergi sekolah tiap hari. (Ali goes to school every day.)

Terlihat di kalimat a, b, lalu c bahwa kata kerja `pergi` dalam bahasa Indonesia tidak pernah berubah, sementara bahasa Inggris berubah dari `go` menjadi `went` lalu `goes`. Perbedaan ini bagi penganut teori behaviorime bisa menghalangi siswa dalam belajar bahasa Inggris, lalu perbedaan ini diistilahkan `interference`. Proses analisis perbedaan lalu persamaan bahasa L1 & L2 dipelajari dalam teori `contrastive analysis`. 

Kritik

Dalam artikel ini tidak disediakan kritik teori behaviorisme secara rinci. Namun perlu diketahui bahwa teori ini sudah banyak dikritik dengan hasil penelitian saat ini termasuk tidak `masuk akal` nya kepercayaan bahwa L1 transfer bisa mempengaruhi pemerolehan bahasa sebagaimana yg dipercaya oleh para penganut teori behaviorisme. Alasannya sama dengan anak-anak dalam berbahasa kadang ditemukan membuat bahasa yg tidak sesuai dengan bahasa orang dewasa. Misal, anak-anak biasa mengatakan `Don`t chocolate my biscuit!` (jangan memberikan coklat ke biskuit saya!). Kata `chocolate` mereka jadikan verb, sementara orang dewasa tidak pernah mengatakan hal tersebut, tidak pernah menjadikan kata `chocolate` menjadi verb. Pertanyaanya kemudian ,darimana mereka (anak-anak) mendapatkan kalimat seperti ini?

Main reference:
VanPatten, B., & Williams, J. (Eds.). (2014). Theories in second language acquisition: An introduction. Routledge.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar